Toyota Belum Minat Bikin “Hybrid” Murah

By | March 12, 2017

Demak, KompasOtomotif – Sebagai pemain otomotif terbesar di Indonesia, Toyota masih belum terendus mau ikut meramaikan segmen hybrid murah buat konsumen dalam negeri. Meski Suzuki, melalui Ertiga Diesel berteknologi hibrida ringan telah muncul ke pasar, tak cukup bagi menjadi perangsang Toyota.

Saat ditanyakan mengenai hal tersebut, Vice President Director PT Toyota Astra Motor (TAM), Henry Tanoto mengaku masih belum ingin membahas mengenai produk kompetitornya tersebut. Padahal dengan kemampuan yg dimiliki, bukan tak mungkin Toyota dapat memulainya, apalagi sebagai pemimpin pasar.

“Saya tak mengomentari produk merek lain. Pastinya kita terus mengembangkan teknologi, agar dapat memberi manfaat bagi konsumen dan lingkungan, dan secara cost juga diterima. Semua teknologi kan dibuat agar lebih kompetitif dan efisen sehingga mampu memberikan kepuasan,” ujar Henry ketika ditanyakan mengenai hybrid murah Suzuki Ertiga, Rabu (8/3/2017).

Baca juga : Mengapa Ada Kata “Hybrid” di Ertiga Diesel?

Henry mengakui, kalau teknologi kendaraan ramah lingkungan yg paling visible bagi direalisasikan adalah hybrid. Karena tak terlalu bergantung dengan infrastruktur, seperti misalnya stasiun pengecasan atau buat mengisi hidrogen.

“Kalau yg paling gampang itu hybrid, tak butuh infrastruktur, jadi kan dia telah dapat langsung. Itu yg cukup potensial yg secara cepat terealisasi di Indonesia, dibanding teknologi yang lain yg butuh infrasuktur khusus dan waktu,” ujar Henry.

Dua Syarat

Tekait dengan kapan Toyota akan memproduksi hybrid, Henry menjawab, masih melihat pasarnya. Untuk merangsang itu, perlu juga peran pemerintah buat memberi dukungan, seperti insentif maupun infrastruktur.

“Kami butuh support juga dari pemerintah buat membuat hybrid, karena cukup mahal, dan membuat volumenya belum cukup banyak. Kalau di luar negeri, volume banyak karena ada perlakukan khusus, jadi itu yg bikin dapat lebih diterima,” ujar Henry.

“Harapan kalian kalau hal tersebut diberlakukan juga di Indonesia (insentif), aku yakin diri, di mana lama kelamaan volumenya mulai naik, dan kalau itu terjadi, tentu mampu produksi juga secara lokal,” ucap Henry.

Sumber: http://otomotif.kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *