Pariwisata, Angsa Emas Sabah

By | March 21, 2017

Oleh: Karim Raslan

JHENNIS Mintjelungan, lelaki Minahasa berusia 30 tahun, bekerja sebagai resepsionis hotel di Sorong, kota tempat masuknya turis menuju Kepulauan Raja Ampat. Obyek wisata ini disebut sebagai tempat liburan tercantik di dunia oleh Conde Nast Traveler.

Dia berharap jumlah pengunjung ke kepulauan ini selalu meningkat secara signifikan hingga dapat mendorong ekonomi daerah yg terletak di ujung barat Papua ini.

Di tepi pantai Danau Toba di Sumatera Utara, 3.649 kilometer sebelah barat dari Kepulauan Raja Ampat, Bona Pana Parlindungan, seorang pemandu wisata berusia 54 tahun, berdoa agar jumlah pengunjung asing selalu meningkat.

Dengan tersedianya bandara terdekat Silangit yg baru direnovasi dan penerbangan segera dari Jakarta, memang sangat memungkinkan danau kaldera terbesar di dunia itu menerima kedatangan turis lebih ramai lagi.

Sektor pariwisata di Asia Tenggara sedang tumbuh pesat. Pada 2014, sektor travel dan pariwisata berkontribusi 4,8 persen terhadap total PDB atau sekitar 117,9 miliar dollar AS.

Angka ini diprediksi mulai naik menjadi 4,9 persen atau sekitar 209,4 miliar dollar AS pada 2025. Asia Tenggara yaitu daerah dengan pertumbuhan sektor pariwisata tertinggi kedua di dunia setelah Asia Selatan.

Tren global yg menyajikan petualangan dan alam turut mendorong minat publik bagi menjelajah daerah-daerah yg kurang dikenal masyarakat luas.

Namun apa yg harus dikerjakan oleh para pemimpin lokal bagi mempertahankan industri dengan potensi yg berubah-ubah ini? Hal-hal penting apa saja yg diperlukan bagi menarik turis dan mendorong mereka agar kadang berkunjung?

Dok Karim Raslan Sorong dikenal sebagai pintu gerbang menuju pulau Raja Ampat yg masih mempunyai pantai yg asli dan kaya dengan kehidupan laut.

Belajar dari Sabah

Saya mulai sangat menyarankan para pembuat kebijakan buat memelajari apa yg Sabah sudah lakukan dengan baik.

Dengan kesuksesannya menarik 3,4 juta turis pada 2016, sebanyak lebih dari 1 juta berasal dari Tiongkok, Sabah kini sudah menjadi salah sesuatu destinasi ekowisata dan petualangan tersukses di Asia.

Kekayaan alam seperti Gunung Kinabalu (gunung tertinggi di Asia Tenggara), tempat olahraga snorkeling serta hutan-hutan yg sangat alamiah turut menolong Sabah menarik turis tersebut.

Maskapai berbujet rendah, AirAsia, juga sudah berperan utama dalam menekan biaya perjalanan dan tidak mengurangi kapasitas.

Namun, Sabah tidaklah terus sebuah kisah sukses. Dua puluh lima tahun silam, negara bagian ini sempat juga menghadapi dilema ekonomi.

Para pebisnis lokal fokus mengembangkan industri ekstraktif selama puluhan tahun yakni menggarap hutan-hutan yg sangat kaya mulai sumber daya alam. Pada awal 1990 kelihatan jelas bahwa aktivitas ini tak berkelanjutan.

Datuk Masidi Manjun, Menteri Pariwisata, Budaya dan Lingkungan Sabah, dengan yakin diri mengatakan, “Pada zaman dulu tak sulit memberitahu orang Sabah bahwa konservasi patut dilakukan. Mereka terus mempunyai kedekatan khusus dengan hutan.”

“Pengelolaan industri pariwisata, budaya dan lingkungan di bawah Kementerian yg sama,” tutur dia, “sangat menolong sehingga kita dapat membuat dan mengoordinasikan berbagai kebijakan agar setiap orang termasuk pihak swasta berjalan di jalur yg sama.”

“Orang Sabah bangga dengan peninggalan budaya nenek moyang. Hal ini diajarkan di sekolah-sekolah. Kami adalah masyarakat yg memiliki budaya dan agama yg beragam. Pemerintah Daerah bekerja keras memastikan budaya lokal tetap berkembang.”

Jacqueline Jimin, pegawai pemasaran berusia 29 tahun dan beretnis Murut, sangat optimistis dengan Sabah. Setelah belajar dan bekerja selama bertahun-tahun di Kuala Lumpur, pada 2010 dia kembali ke Sabah dan mendapatkan pekerjaan dengan bayaran tinggi.

“Saya kembali bagi menjaga ibu aku yg sakit,” katanya. “Ekonomi lokal sangat beragam ketika ini. Perkembangan industri pariwisata sudah membuka banyak kesempatan. Banyak hal sudah berkembang dan maju.”

Namun, dua orang tetap bersikap berhati-hati. Seperti Asgari Stephens, seorang investor private equity yg lahir di Sabah tapi menetap di Kuala Lumpur. Dia menyinggung perlunya kebutuhan buat meningkatan kemampuan pekerja lokal.

“Kami perlu menaikan standar, meningkatkan pelatihan dan bekerja lebih keras agar mampu bersaing dengan Bali dan Phuket. Banyaknya turis Tiongkok yg tiba tak mampu segera diartikan sangat menguntungkan,” kata Jacqueline Jimin.

Dok Karim Raslan Danau Toba adalah pusat wisata yg berkembang di Sumatera Utara.

Datuk Masidi pun menekankan, “Anda tak mampu cuma melihat sisi angka turis. Angka bisa menipu. Anda harus memastikan rakyat biasa juga menerima manfaat, dari bisnis restoran lokal, turis tinggal di rumah penduduk lokal, pembuat barang-barang kerajinan tangan dan bahkan masyarakat yg menjual es krim buatan rumahan.”

“Sangat utama kita mendorong masyarakat bagi mempertahankan dan menjaga keindahan alam di sekitar kami,” ujar Datuk Masidi lebih lanjut.

“Kami harus memastikan semua satu tetap seperti awalnya sehingga kita mampu mendapat manfaat dari keindahan tersebut. Selain itu, aspek konservasi juga harus menjadi bagian utama dalam agenda pengembangan ekonomi pemerintah karena ekopariwisata sangat penting,” kata Datuk Masidi.

Masih kata Datuk Masidi, “Setiap tahun kita tidak mengurangi cadangan hutan kami. Serikat Konservasi Alam Internasional mewajibkan 10 persen dari total lahan harus dijadikan sebagai hutan lindung. Hingga ketika ini, Sabah memiliki 23 persen hutan lindung dengan target sebesar 30 persen pada 2025.”

Upaya ini tidaklah mudah. Kontroversi atas pembangunan Jembatan Sukau di Kinabatangan bernilai 223 juta ringgit (sekitar Rp 670 miliar) menggambarkan dilema antara pengembangan ekonomi dan konservasi yg masih berlangsung hingga ketika ini. Para pengkritik mengklaim pembangunan jembatan itu bisa menghancurkan margasatwa di sana.

Masalah keamanan yg masih berlangsung di Sabah bagian timur juga mengurangi jumlah turis di Sandakan, sebuah pusat ekopariwisata.

Pengalaman Sabah menunjukan bahwa industri pariwisata bukanlah satu yg mampu dikembangkan cuma melalui peraturan.

Sebaliknya, dia membutuhkan suatu proses yg panjang, termasuk membangun kepercayaan, melatih para penyedia jasa dan mempertahankan standar. Hal-hal ini membutuhkan kesabaran yg luar biasa agar semua pemangku kepentingan mampu sejalan.

Namun kabar baiknya adalah destinasi wisata yg belum diketahui banyak orang pun bisa menjadi terkenal. Coba perhatikan bagaimana Pulau Palawan di Filipina dengan lautnya yg sangat cantik sudah menjadi sebuah sensasi di dunia maya.

Jadi seandainya para pemimpin lokal ingin mengembangkan portofolio pariwisata mereka maka mulai bijaksana seandainya mereka melihat “Tanah di Bawah Angin” bagi tip bagaimana mengembangkan industri bernilai miliaran dolar. 

Sumber: http://travel.kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *