Melancong Ke Thailand, Yuk Berburu Kabut Di Mae Hong Son

By | March 14, 2017

KOMPAS.com -Saya terpukau ketika Ning, teman asli Thai memperlihatkan sebuah foto perkemahan di suatu danau yg indah. Danau berkabut dengan kilauan matahari pagi dikelilingi pegunungan hutan pinus yaitu kombinasi ilustrasi alam yg sempurna untuk saya.  

Gambar tersebut berlokasi di Pang Oung, Mae Hong Son yg menjadi salah sesuatu destinasi impian Ning masa kecil.

Menurutnya, tempat ini jarang didatangi wisman karena lokasi yg cukup terpencil juga perlu pendamping orang lokal buat mendapatkan sebuah pengalaman otentik.

(BACA: 7 Lokasi Bergaya Lanna yg Wajib Didatangi di Chiang Mai)

Tanpa perlu belajar mengeja nama tempat di provinsi sebelah utara Thailand yg agak sulit diucapkan ini, aku segera tunjuk jari mengiyakan ajakannya ke sana. Ayo!

NOVA DIEN Pemandangan pagi hari di Pang Oung atau Pang Ung, Provinsi Mae Hong Son, Thailand.

Mae Hong Son disebut sebagai “kota tiga kabut” karena dikelilingi 90 persen pegunungan tinggi yg tidak jarang tertutup kabut. Putaran kabut tahunan akan dari kebakaran hutan di musim panas, embun kabut di musim hujan dan kabut di musim dingin.

Lokasinya yg terpencil menjadikan kota ini terbaik dari seluruh kota sibuk yg ada di Thailand. Nyaris tidak kelihatan tuk-tuk di sini.

Namun tak berarti Mae Hong Son adalah wilayah yg belum dipetakan. Potensi kota yg berbatasan dengan Myanmar ini sangat diminati wisatawan buat kegiatan alam seperti berperahu, trekking dan berkemah.

Kami berangkat dari Chiang Mai ke bandara Mae Hong Son (MHS) memakai maskapai Kan Air, pesawat baling-baling yg memakan waktu terbang sekitar 35 menit. Alternatif lainnya adalah dengan memakai bus selama tiga jam perjalanan.

NOVA DIEN Pemandangan dari Kuil Phra That Doi Kong Mu di Mae Hong Son, Thailand.

Saya memilih terbang bagi menghindari rute darat ‘MHS Loop’ yg terkenal dengan 1.864 kelokan!.

Untuk memaksimalkan beberapa hari di Mae Hong Son, kita menyewa layanan tur perjalanan termasuk penjemputan di bandara, perjalanan ke 8 situs wisata, sekaligus mengantar sampai ke tujuan akhir kalian merupakan Pang Oung.

Mengagumi Panorama di Wat Phra That Doi Kong Mu

Situs pertama perjalanan wisata kita di provinsi terbesar kedelapan (dari 76 provinsi) di Thailand ini adalah ke kuil Phra That Doi Kong Mu. Di dalam kuil yg dibangun pada tahun 1860 ini terdapat beberapa candi dan beberapa wihara.

Saya suka salah sesuatu candi yg bercat putih bertingkat delapan yg di dalamnya mengabadikan gambar Buddha dengan menara emas di atasnya.

NOVA DIEN Kuil Phra That Doi Kong Mu di Mae Hong Son, Thailand.

Berdiri di atas ketenangan bukit Doi Kong Mu, kuil bergaya Birma ini mampu kelihatan dari sebagian besar tempat di kota Mae Hong Son.

Begitupun sebaliknya, dari puncak bukit Doi Kong Mu aku bisa melihat pemandangan 360 derajat Mae Hong Son, danau Chong Kham, lembah Pai dan kota negara tetangga, Birma, Myanmar.

Menjenjangkan Leher di Karen Tribe Village

Mayoritas (60 persen) penduduk di Provinsi Mae Hong Son terdiri dari suku-suku yg tinggal di perbukitan atau disebut Hill Tribe. Termasuk Hmong, Yao, Lahu, Lisu, Akha, Shan dan suku Karen.

Siang hari, kalian mengunjungi desa Suku Karen yg terkenal dengan kelompok wanita berleher panjang atau long-neck. Wanita suku Karen diidentifikasi oleh tumpukan cincin kuningan besar yg mereka kenakan di leher sejak kecil.

NOVA DIEN Perempuan Suku Karen di Provinsi Mae Hong Son, Thailand, dengan tumpukan cincin kuningan besar yg mereka kenakan di leher sejak kecil.

Konon, cincin-cincin besar tersebut bertujuan buat melindungi para wanita suku Karen dari perbudakan dengan cara membuat mereka kelihatan kurang menarik buat suku-suku lainnya.

Di sini kalian sempat menggunakan cincin-cincin besar di leher yg disediakan oleh para wanita Karen. Beratnya seakan menggunakan kalung rantai besi membuat aku sulit menggerakkan leher ke kiri dan ke kanan, apalagi menunduk.

Kami berdua kelihatan angkuh dengan dagu terangkat layaknya model ketika melintasi catwalk.

Melintasi Su Tong Pae Bamboo Bridge

Di situs ketiga kita berjalan di atas sebuah jembatan bambu sepanjang 500 meter dikitari sawah di desa Ban Kung Mai Sak. Konstruksi jembatan bambu Su Tong Pae ini sangat sederhana namun indah dengan sawah padi hijau di sekelilingnya.

NOVA DIEN Jembatan bambu Su Tong Pae sepanjang 500 meter dikitari sawah di desa Ban Kung Mai Sak, Provinsi Mae Hong Son, Thailand.

Pemilik sawah menghibahkan tanah mereka dan membangun jembatan tersebut bersama penduduk desa sebagai jalan setapak sehari-hari.

Jembatan yg digunakan oleh penduduk desa ini menghubungkan Mae Sa Nga River dengan kuil di salah sesuatu ujungnya.

Nama jembatan Su Tong Pae diterjemahkan oleh para biksu sebagai “doa sukses” yg menjadi sumber kebanggaan masyarakat setempat.

Menyuapi Domba di Pang Tong Palace

Pang Tong Palace dulunya adalah kediaman Ratu sekaligus menjadi proyek keluarga kerajaan. Selain bersawah, petani di Mae Hong Son juga membudayakan ternak seperti babi, ayam dan domba.

NOVA DIEN Memberi makan domba di Pang Tong Palace, Provinsi Mae Hong Son, Thailand. Makanan domba berupa rumput disediakan gratis buat pengunjung.

Kami mampir di sebuah taman apik Pang Tong buat memberi makan sekawanan domba piaraan istana. Makanan domba berupa rumput disediakan gratis bagi pengunjung.

Ini yaitu cara pintar buat menghemat tenaga kerja sekaligus memberikan pengalaman interaksi buat wisatawan. Tak heran, domba-domba ini kelihatan gemuk dan sehat.

Facial di Phu Klon Mud Spa

Setelah sheep-feeding, saatnya kita merawat wajah di Phu Klon. Phu Klon adalah daerah sumber lumpur terbaik yg kabarnya cuma ada tiga tempat di dunia selain Israel dan Rumania.

Lumpur hitam murni bawah tanah dengan campuran air alam panas  60-140 derajat ini menghasilkan unsur mineral murni. Khasiat lumpur Phu Klon dipercaya baik buat kulit dan mampu mengeluarkan kotoran racun yg ada dikulit.

NOVA DIEN Facial di Phu Klon Mud Spa. Phu Klon adalah daerah sumber lumpur terbaik di Thailand yg kabarnya cuma ada tiga tempat di dunia selain Israel dan Rumania.

Spa lumpur di Phu Klon menyediakan paket lumpur spa lengkap. Tersedia paket 90 menit dengan biaya 1.200 Baht (Rp 450.000) buat segala badan. Kami memilih paket masker lumpur wajah saja yg berlangsung 15 menit seharga 80 baht (Rp 30.000).

Proses masker wajah sederhana, akan dari wajah dibersihkan dengan air bunga, kemudian dilumuri lumpur dan didiamkan selama 30 menit. Lumayan, kulit terasa bersih dan lembut.

Rak Thai Village

Tanpa terasa hari telah sore ketika kita datang di desa Rak Thai. ‘Rak Thai’ yg berarti ‘Cinta Thailand’, dan, aku jatuh cinta dengan desa ini.

Desa yg didirikan oleh mantan tentara yang berasal Yunnan, China di tahun 1949 ini sangat memesona. Danau dengan air super tenang bagai kaca memantulkan refleksi lembah perbukitan yg begitu indah.

Snap!, kalian sibuk berfoto sana-sini, sebelum matahari terbenam dan kabut menyelimuti desa yg terkenal dengan perkebunan teh ini.

NOVA DIEN Rak Thai Village di Provinsi Mae Hong Son, Thailand. ‘Rak Thai’ berarti ‘Cinta Thailand’.

Kami pun bergegas ke Pang Oung, destinasi terakhir yg menjadi tujuan kita sekaligus tempat kalian menginap di Mae Hong Song.

Pang Oung

Pang Oung (Pang Ung) adalah salah sesuatu proyek kerajaan hasil inisiatif Ratu Sirikit buat pengembangan dataran tinggi. Dulunya, Provinsi Mae Hong Son dikenal sebagai lokasi jual-beli opium dan obat terlarang.

Oleh karena itu, kerajaan mengubah provinsi ini dengan ladang pertanian seperti beras, teh, kopi serta membangun potensi daerah lainnya buat pembangunan demi kesejahteraan penduduknya, termasuk mempromosikan situs-situs wisata seperti Pang Oung.

Perlu dicatat, kunjungan ke Mae Hong Son yg terbaik adalah antara bulan November dan Februari karena cuaca yg cukup nyaman. Sedangkan di musim dingin di bulan Juni-Oktober cuaca malam hari sangat dingin, mampu mencapai nol derajat celsius.

Kunjungan kita kali ini adalah di bulan Januari di mana udara seperti aku sebutkan di atas masih nyaman.

NOVA DIEN Kuil Phra That Doi Kong Mu di Provinsi Mae Hong Son, Thailand.

Namun itu di siang hari, sedangkan pada malam hari suhu otomatis menurun. Kami diturunkan di Pang Oung setelah hampir beberapa jam perjalanan dari desa Rak Thai dengan sambutan udara 10 derajat celcius!

Di Pang Oung terdapat sebuah danau cantik tenang di lembah pegunungan hutan pinus yg berkilauan oleh sinar matahari dan kabut pagi.

Kata Ning, Pang Oung tidak kalah dengan pemandangan di Swiss dan Selandia Baru. Sayangnya, hari telah malam yg kelihatan cuma kegelapan hutan. Waktunya kita tidur, tidak sabar menunggu kokokan ayam.

Penginapan di Pang Oung kebanyakan adalah berupa hut atau tepatnya ‘gubuk sangat sederhana’ yg ditawarkan di sekitar desa Ruam Thai dengan harga sekitar 150-500 Baht (Rp 55.000 – Rp 185.000).

Alternatif lainnya adalah berkemah di dalam national park. Namun, bagi menginap di dalam taman nasional butuh izin masuk dari pemerintah Thailand. Untungnya, Ning sebagai ‘pemandu lokal’ aku telah menyiapkan semuanya.

NOVA DIEN Pemandangan di Pang Oung atau Pang Ung, Provinsi Mae Hong Son, Thailand.

Kami bangun jam 5 subuh keesokan harinya. Udara terasa 10 kali lebih dingin dibandingkan ketika kita tiba. Walau telah mengenakan baju empat lapis aku masih merasa dingin.

Dengan nafas berasap kalian akan berjalan kaki menembus kegelapan hutan. Tercium bau pohon pinus dan embun basah melapisi kulit aku yg menggigil.

Untungnya dua warung kopi telah ada yg buka. Saya mengajak Ning mampir memesan secangkir kopi panas.

Terlihat dua biksu memberkati pemilik warung yg telah menyediakan makanan dan minuman cuma-cuma bagi menghormati para biksu yg menjalankan tugasnya hari itu.

Setelah berjalan kaki sekitar 20 menit, kita pun datang di tepi danau. Banyak orang yg berkemah di sekitar danau namun tidak melihat wisman sesuatu pun di sini.

NOVA DIEN Peta Provinsi Mae Hong Son di Thailand. Dikenal sebagai kota tiga kabut karena dikelilingi 90 persen pegunungan tinggi yg kadang tertutup kabut.

Kebanyakan adalah orang lokal yg sudah bersiap dengan kamera dan tripod buat mengabadikan pemandangan alam yg menjadi tujuan mereka ke sini. Begitupun kami, seraya mengirup udara segar, bersiap menyambut kabut dini hari.

Pukul 6 tepat, cahaya matahari akan terlihat. Kabut yg tadinya menutupi danau perlahan akan menipis dan menunjukkan air danau yg berkilau.

Beberapa sampan penduduk yg tiba dari kejauhan akan mendekat, menjadikan obyek foto yg dramatis. Pohon-pohon pinus menunjukkan bayangan jangkungnya di atas tanah berembun.

Berlatar belakang danau, pegunungan dan embun pagi membingkai pemandangan alam nan spektakuler. Beberapa ketika aku lupa mengabadikannya, saking terkesima. Wajah bantal Ning kelihatan girang tidak terkira. Seakan dalam mimpi.

Impian kita berburu kabut di “kota tiga kabut” ini akhirnya kesampaian juga. Dalam diam kami  tersenyum bahagia.

Special Trip dan Tips

Menyambangi Pai

Jika Anda milik waktu tersisa di Mae Hong Son ada baiknya sambangi Pai. Pai adalah sebuah kota kecil cantik di Provinsi Mae Hong Son.

NOVA DIEN Desa Suku Karen di Provinsi Mae Hong Son, Thailand, yg terkenal dengan perempuan berleher panjang atau long-neck.

Pai terkenal di kalangan backpacker dengan guesthouse yg murah, toko-toko suvenir, dan restoran. Jangan kaget melihat begitu banyak turis asing di sini dibanding kota Mae Hong Son.

Berikut tiga pengalaman berkesan kita di Pai.

1. Mae Hong Son Loop

Ini adalah rute populer buat wisatawan dan penggemar sepeda motor yg ingin menjelajahi sisi sebelah utara Thailand.

Kami naik songthaew dari stasiun bus kota Mae Hong Son seharga 120 Baht (sekitar Rp 50.000 per orang). Ribuan kelok jalanan selama 3 jam plus bonus pemandangan indah, menemani perjalanan kami.

2. Night Market

Mencoba makanan lokal asli Thailand Utara sekaligus belanja di pasar malam Pai sangat menyenangkan. Beberapa makanan dan barang di sini tidak mulai Anda dapatkan di tempat lain.

NOVA DIEN Rak Thai Village di Provinsi Mae Hong Son, Thailand. ‘Rak Thai’ berarti ‘Cinta Thailand’.

Makanan lokal kesukaan aku adalah Puk Ngadum merupakan beras dengan campuran wijen hitam dibakar dan diberi susu manis. Saya juga membeli atasan suku Karen yg keren. Murah meriah!

3. Walking Street

Bar, restoran, penginapan dan toko-toko jadi sesuatu di sini. Jalan ini mirip Legian di Bali. Udara malam yg sejuk cenderung dingin membuat night-out makin seru.

Kami mampir di sebuah bar yg menyediakan beragam home-brew beer yg jarang ada di tempat yang lain di Thailand. Cheers! (www.liburing.com/Nova Dien)
Sumber: http://travel.kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *