Jangan Sepelekan Metode 3 Detik Untuk Jaga Jarak Aman

By | March 12, 2017

Jakarta, KompasOtomotif – Menjaga jarak aman dalam berkendara telah menjadi kewajiban bila ingin selamat. Hal ini berlaku baik bagi sepeda motor atau mobil, dan bukan cuma dalam kondisi macet atau ramai lancar, tetapi juga saat keadaan jalan sedang lenggang.

Bila tidak, konsekuensinya seperti tabrakan beruntun di ruas tol Bintaro arah Pondok Indah, Sabtu (11/3/2017). Tidak tanggung-tanggung, kejadian tersebut segera melibatkan lima mobil sekaligus, bahkan parahnya kelihatan VW Scirocco sampai tertimpa Nissan X-Trail.

Setelah dikonfirmasi, Kasat Partroli Jalan Raya Ditlantas Polda Metro Jaya Kompol Lukman Cahyono, menjelaskan bahwa kejadian tersebut murni akibat kelalaian dalam berkendara.

Dikutip dari Kompas.com, kecelakaan tersebut terjadi karena pengemudi mobil Avanza memperlambat laju kendaraannya. Namun, kendaraan yg berada di belakang tak dapat menjaga jarak amannya sehingga terjadi tabrakan beruntun.

Meski tak memakan korban jiwa, namun tetap saja ada kerugian secara materi yg harus ditanggung. Padahal kalau diperhatikan perkaranya cuma karena tak mampu saling menjaga jarak serta mengontrol ritme kecepatan kendaraan.

Lalu bagiamana menentukan jarak aman yg ideal dengan kendaraan di depan ? Cukup gampang dengan metode berhitung tiga detik, seperti yg disampaikan Training Director Real Driving Center (RDC) Marcell Kurniawan.

“Kalau hitungan jarak pasti itu tak mungkin dikerjakan saat berkendara. Hitungan traveling kami ketika berkendara itu paling gampang adalah kilometer per jam (kpj),” ucap Marcell dua waktu lalu.

ivanhumphrey.blogspot Ilustrasi jaga jarak aman 3 detik

Kalau kalian bergerak, lanjut Marcell, dari angka 100 kpj, per menitnya kalian untuk 60 (detik) buat mampu sesuatu menit yakni 1.667 meter per menit, dulu dibagi lagi 60 bagi mampu sesuatu detik itu kira-kira 28 meter per detik. Jadi tiga detik dapat mengantisipasi jarak sekitar 84 meter.

Bila masih kurang dari tiga detik, benda itu telah dilewati, berarti kecepatan kalian terlalu tinggi dan langsung kurangi atau sebaliknya, justru terlalu lambat.

Youtube Ilustrasi penggunaan rem kaki bagi berhenti di lampu merah

Selain prinsip tiga detik, pengendara juga wajib mengetahui reaksi manusia dan mekanis. Reaksi manusia itu adalah ketika kami ingin berhenti atau menghindar. Mulai dari mata melihat, otak memproses, sampai akhirnya kaki menginjak rem yg membutuhkan waktu sekitar sesuatu detik. Sedangkan reaksi mekanik berjalan ketika rem akan diinjak, buster bekerja dorong minyak rem sampai ke kaliper, estimasi waktunya kurang lebih setengah detik.

Jusri Pulubuhu dari Jakarta Defensive Driving Center (JDDC) juga pernah mengatakan, penerapan dalam teori dan praktik mulai jarak jarak aman mulai berbeda hasilnya. Hal tergantung dari keadaan si pengendara dan juga keadaan dari kendaraan yg digunakan.

“Kalau kendaraannya sehat, dalam arti rem berfungsi dengan baik, kanvas masih bagus tentu menjamin. Untuk pengendara juga sama, bagaimana kesehatan dan keadaan fisiknya ketika berkendara,” ucap Jursi.

Sumber: http://otomotif.kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *