Harmoni Gamelan Di Kota “China Kecil” Yang Kian Sunyi…

By | March 17, 2017

LASEM, KOMPAS.com – Pergelaran gamelan itu masih berlangsung di Kelenteng Cu Ang Kiong. Jelang pukul 22.00 WIB, pemain-pemain gamelan masih asyik dengan alatnya masing-masing.

Sementara, tiga orang waranggama tetap memegang mikropon dan melantunkan harmoni lagu-lagu berbahasa Jawa.

Mereka duduk bersimpuh di sebelah kanan pintu masuk Kelenteng Cu Ang Kiong. Para pemain gamelan, duduk ke arah utara kelenteng. Sesekali bangkit dari duduk buat beristirahat dan makan.

Mata mereka kelihatan tidak berkedip ketika memainkan alat-alatnya. Sesekali mereka berbincang seusai membawakan sebuah lagu.

Penonton pergelaran gamelan di Kelenteng Cu Ang Kiong tidak ramai dibandingkan acara malam sebelumnya. Jumlahnya tidak melebihi jari-jari tangan. Bahkan, tidak jarang cuma tiga orang.

Saya pertama kali melihat pergelaran gamelan itu sekitar pukul 11.00 WIB. Sementara, 12 jam setelah itu, mereka masih khusyuk memainkan paduan kenong, gong, gendang, bonang, gambang, dan beragam alat musik lainnya.

KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG Kelompok Sekar Laras memainkan musik gamelan di pelataran Klenteng Cu Ang Kiong, Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Sabtu (11/3/2017). Pagelaran gamelan hadir dalam rangka menyemarakkan Cap Go Meh di Lasem.

Kala itu, aku tiba ke Kelenteng Cu Ang Kiong di Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, pada ketika perayaan Cap Go Meh, Februari lalu.

Gegap gempita yg sangat berbeda dibandingkan perayaan yang lain seperti di Bogor, Jawa Barat. Di Lasem ketika itu, Cap Go Meh cuma bersua dalam keheningan.

Seorang sesepuh Kelenteng Cu Ang Kiong, Opa Gandor bercerita pergelaran gamelan di kelenteng rutin diadakan ketika menyambut acara-acara hari kebesaran. Salah satunya adalah Cap Go Meh.

“Karena sumber daya manusia khusus Tionghoa di Lasem itu telah tinggal lima persen jadi ya sepi. Tidak seperti dulu, ramai. Karena tradisi itu kalian masih merayakan,” kata Opa Gandor ketika ditemui di Kelenteng Cu Ang Kiong.

Pergelaran gamelan di Cu Ang Kiong hadir sejak pagi hingga malam hari jelang Cap Go Meh. Pada hari Cap Go Meh, pergelaran gamelan ditiadakan.

“Saat pagi ada sembahyang, musik gamelan telah tak ada,” ceritanya.

KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG Kelompok Sekar Laras memainkan musik gamelan di pelataran Klenteng Cu Ang Kiong, Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Sabtu (11/3/2017). Pagelaran gamelan hadir dalam rangka menyemarakkan Cap Go Meh di Lasem.

Gamelan buat kalangan kelenteng khususnya dan masyarakat Lasem pada umumnya milik arti tersendiri. Opa Gandor menyebut gamelan dipilih buat pergelaran di kelenteng lantaran letak Lasem dan budaya masyarakat setempat.

“Jadi tak dapat seluruh kelenteng disamakan, beda. Dari lokasi, kotanya, daerahnya juga. Semua disesuaikan. Kalau di Semarang Kota, musiknya musik berbau China. Di sini sumber daya manusia keturunan China gak ada buat memainkan musik berbau China,” tambahnya.

Bagian dari tradisi dan budaya

Bagi Opa Gandor, pergelaran gamelan di Kelenteng Cu Ang Kiong jelang Cap Go Meh adalah bagian dari tradisi. Para pemain gamelan juga dianggap seperti keluarga Kelenteng Cu Ang Kiong.

“Kalau tak ada nanti ada yg tanya. Sepi kalau gak ada. Kalau seperti band, gak dapat awet. Ini dari pagi sampai jam 12 malam. Nanti setelah sembayang zuhur istirahat. Sekitar jam sesuatu main lagi sampai jam tiga. Nanti menjelang maghrib, istirahat. Sampai jam 11 nanti selesainya,” tambahnya.

KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG Penonton duduk menikmati pagelaran gamelan di pelataran Klenteng Cu Ang Kiong, Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Sabtu (11/3/2017). Tak banyak penonton yg tiba bagi menyaksikan pagelaran gamelan.

Soal anggapan keluarga, kelihatan dari kebiasaan saling terbuka dalam persoalan keuangan. Para pemain tidak jarang meminjam uang pada pihak kelenteng.

“Mereka telah seperti keluarga, misalnya mau pesta pernikahan, sunat. Dia pinjam uang ke kita. Misalnya mereka telah milik kerja, baru bayar ke kita,” ujarnya.

Pengamat Budaya Tionghoa, Agni Malagina menyampaikan pergelaran gamelan di kelenteng seperti di Lasem itu adalah bentuk eksistensi percampuran dengan masyarakat Jawa. Menurutnya, tidak seluruh kelenteng di daerah Jawa Tengah ada pergelaran gamelan jelang Cap Go Meh.

“Itu telah the way of life mereka. Sudah ada dari darah mereka. Budayanya mereka (Tionghoa Lasem), ya budaya Jawa,” ujar Agni.

KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG Penonton duduk menikmati pagelaran gamelan di pelataran Klenteng Cu Ang Kiong, Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Sabtu (11/3/2017). Tak banyak penonton yg tiba bagi menyaksikan pagelaran gamelan.

Adanya seni gamelan di tengah Kota Lasem yg tidak jarang disebut “China Kecil” itu telah terbukti hadir sejak lama. Menurutnya, gamelan-gamelan juga banyak dimiliki oleh masyarakat peranakan Lasem.

“Sekarang banyak gamelan dijual keluar Lasem. Dari cerita oma-oma di Lasem, dahulu di Desa Karang Turi, setiap rumah, milik gamelan. Biasa dimainin ketika jam-jam santai, ada tamu pejabat, nemanin menggunakan candu,” tambahnya.

Kini gamelan di tengah peradaban Lasem seperti hidup segan mati tidak mau. Baik Agni maupun Ketua Kelompok Gamelan Sekar Laras, Ngaripin mengaku tidak ada anak muda yg memainkan gamelan.

KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG Kelompok Sekar Laras memainkan musik gamelan di pelataran Klenteng Cu Ang Kiong, Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Sabtu (11/3/2017). Pagelaran gamelan hadir dalam rangka menyemarakkan Cap Go Meh di Lasem.

“Sebanyak apa pun koleksi di Lasem, gak ada yg mainin. Gak ada yg ngerawat, rusak. Memprihatinkan sih. Bisa dibayangkan di sana ada rumah-rumah milik gamelan, itu memperlihatkan keadaan ekonomi sana. Betapa sejahtera masyarakat Lasem,” ujarnya.

Ngaripin menyebut cuma orang-orang tua ketika ini yg masih memainkan gamelan. Hal itu dilatari kegemaran atas musik gamelan.

Pergelaran gamelan di kelenteng Lasem kelihatan seperti ingin menyelamatkan nyala api di tengah rintik hujan. Semakin maju teknologi, semakin budaya tradisional kian kurang diminati.

Sumber: http://travel.kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *