Gesits Itu Benih “Nasionalisme” Otomotif Indonesia

By | March 21, 2017

Jakarta, KompasOtomotif – Semangat cinta produk dalam negeri yg gaungnya akan luntur, cukup menghawatirkan. Jika dibiarkan, bukan tak mungkin kepercayaan diri masyarakat bagi berinovasi bakal hilang, salah satunya di sektor otomotif.

Ini yg mencoba bagi ditumbuhkan lagi oleh koalisi anak negeri, Garansindo Group dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember, dan dua pihak lainnya, melalui proyek skuter listrik Gesits. Ini seperti yg disampaikan Muhammad Nur, Kepala Proyek Gesits dan Harun Sjech, Chief Sales Officer Garansindo Group.

“Kami ingin industri otomotif Indonesia itu berkembang, hidup, milik merek sendiri, memiliki pabrik, dengan kegiatan riset yg dijalankan sendiri,” kata keduanya ketika dijumpai pada Forum Inovasi Industri Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi di Jakarta, Senin (20/3/2017).

Baca juga : Pengisian Baterai Gesits seperti Beli Elpiji 3 Kg

Harun melanjutkan, bukan tak mungkin produk Gesits yg nantinya bakal disebar ke pasar, mulai mambangun kesadaran nasionalisme. Lebih lagi seandainya produk yg dihasilkan bagus, dan otomatis rasa itu mulai tumbuh, dan masyarakat mulai berpikir lagi kalau Indonesia ternyata mampu.

“Tentu saja, kita juga membangun dan memulainya dengan benar, dan menggandeng engineer muda Indonesia, Perguruan Tinggi, tak membuat produk dari luar, dan melakukan segala risetnya sendiri. Kalau tak dimulai dan membuktikannya, mulai sulit,” ujar  Harun.

Pasalnya, seandainya ingin memiliki produk sendiri dengan teknologi mesin konvensional dapat dibilang telah tak mungkin, karena Indonesia telah tertinggal puluhan tahun. Namun buat kendaraan listrik, segala dunia baru saja memulainya, termasuk Indonesia salah satunya.

Belajar dari Korea Selatan

Nur menambahkan, kalau Indonesia dapat belajar dari dukungan masyarakat Korea Selatan, terhadap merek mobil dalam negeri mereka Hyundai. Kekuatan itu yg sebenarnya bakal ditakuti oleh merek asing.

“Mereka (merek asing) bukan khawatir mulai produk, tetapi ideologi nasionalis, ditambah lagi dengan adanya sebuah kesadaran, kalau kami (Indonesia) mampu untuk produk dan bagus, serta didukung masyarakat. Itu yg bahaya, karena efeknya mulai banyak. Kita dapat belajar dari Korea seperti itu,” ucap Nur.

Nur menuturkan, keberhasilan Korsel memiliki Hyundai, diawali keinginan buat memiliki produk sendiri. Kisah ini diapatinya segera sewaktu berkunjung ke sana, dan bertemu dengan pihak dari Korea Automotive Technology Institute.

“Diceritakan, kalau Hyundai pertama kali muncul tak segera jadi. Puluhan bahkan ratusan produknya meledak di jalanan, tetapi orang Korsel tak pernah komplain, karena mereka percaya kalau suatu ketika segala mulai menjadi lebih baik,” ucap Nur.

“Selain masyarakat, dukungan juga diberikan oleh pemerintahnya, buat dapat benar-benar memajukan Industri otomotif dalam negeri dan masyarakat,” kata Nur.

Sumber: http://otomotif.kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *