Bali Dipilih Raja Arab Saudi Karena Keindahan Lautnya

By | March 5, 2017

NUSA DUA, KOMPAS – Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud beserta rombongan, Sabtu (4/3/2017) sore, datang di Bali bagi memulai liburan selama enam hari.

Bali dipilih sebagai tempat liburan rombongan Kerajaan Arab Saudi karena dinilai memiliki panorama laut yg indah.

Duta Besar Arab Saudi bagi Indonesia Osama Mohammad Abdullah al-Shuaibi mengatakan, Raja Salman sangat menyukai pemandangan laut.

”Pulau Bali sangat indah dan menghadap ke laut lepas. Selain itu, hawanya juga stabil,” ujar Osama dalam jumpa pers bersama Wakil Kepala Polri Komisaris Jenderal Syafrudin di kawasan ITDC, Nusa Dua, Bali, Sabtu malam.

(BACA: Mengintip Harga Kamar Raja Salman Menginap di Jakarta)

Raja Salman dan rombongan mendarat di Bandara Internasional Ngurah Rai sekitar pukul 17.45 Wita.

Sempat ada kendala teknis ketika eskalator khusus yg didatangkan dari Arab Saudi mengalami gangguan. Panitia penyambutan memakai lift punya PT Jasa Angkasa Semesta.

Rombongan menggunakan puluhan kendaraan menuju kawasan Nusa Dua. Saat keluar dari kawasan Ngurah Rai, ribuan warga Kota Denpasar dan Badung menyemut di sepanjang jalan yg dilewati rombongan Raja Salman. Warga mengelukan iring-iringan rombongan itu.

(BACA: Puri Ubud Bali Siap Terima Kunjungan Raja Salman)

Mahmud Zakaria, warga Jalan Sulawesi, mengaku sengaja tiba ke Simpang Patung Kuda yg dilewati rombongan bagi melihat secara segera Raja Salman.

KOMPAS/MAHDI MUHAMMAD Masyarakat yg tinggal di sekitar kawasan Kota Denpasar menyambut kedatangan Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud dari Kerajaan Arab Saudi di Simpang Patung Kuda, Denpasar, Sabtu (4/3/2017), yg berencana berlibur selama enam hari di Pulau Dewata ini. Para pemuka agama dan tokoh masyarakat berharap kedatangan Raja Salman membawa pesan damai ke seantero dunia.

Namun, ia tidak berhasil. ”Ingin bertemu langsung. Namun, melihat mobilnya lewat saja telah lumayan,” ujarnya.

Rini (29), warga Kampial, Nusa Dua, mengaku sengaja menunggu kedatangan Raja Salman. Ia merekam kedatangan iring-iringan kendaraan Raja Salman dengan telepon selulernya.

”Kedatangan Raja Salman ke Indonesia, dulu ke Bali, menjadi topik yg ramai dibicarakan di media sosial,” ujarnya.

(BACA: Menpar Arief Yahya Sapa Raja Salman di Bali, Apa Balasannya?)

Menurut Osama, Raja Salman dan rombongan meluangkan sebagian besar waktu liburan dengan menikmati pemandangan pantai dan laut.

Menurut rencana, mereka juga berkunjung, antara lain, ke Pura Uluwatu, Pura Taman Ayun, Pura Tanah Lot, dan Monumen Tragedi Kemanusiaan Ledakan Bom 12 Oktober 2002.

”Jika hati Raja Salman benar-benar happy menikmati pantai, seni tradisional, dan makanan Bali, Raja Salman mulai mengganti lokasi wisatanya selama ini di pantai Maladewa dengan pantai Bali setiap tahunnya,” ujar Syafrudin kepada Kompas mengutip pembicaraannya dengan Dubes Osama dan Gubernur Bali ‎Made Mangku Pastika.

Mengubah persepsi

Raja Salman datang di Bali setelah melakukan kunjungan kenegaraan ke Brunei.

Ia meninggalkan Jakarta, Sabtu pagi, dilepas Wakil Presiden M Jusuf Kalla dan sejumlah pejabat di Bandara Internasional Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Sebelum melepas Raja Salman, Wapres sempat bertemu dan berbincang dengan Pangeran Mansour bin Saud bin Abdulaziz al-Saud serta enam menteri Arab Saudi. Mereka sepakat mempercepat realisasi kesepakatan yg sudah dibuat.

KOMPAS/MAHDI MUHAMMAD Masyarakat yg tinggal di sekitar kawasan Kota Denpasar menyambut kedatangan Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud dari Kerajaan Arab Saudi di Simpang Patung Kuda, Denpasar, Sabtu (4/3/2017), yg berencana berlibur selama enam hari di Pulau Dewata ini. Para pemuka agama dan tokoh masyarakat berharap kedatangan Raja Salman membawa pesan damai ke seantero dunia.

Menurut Kalla, kunjungan Raja Salman bernilai lebih dari sekadar investasi ekonomi.

Hal terpenting justru perubahan cara pandang Arab Saudi terhadap Indonesia yg tidak lagi dilihat sebagai negara terbelakang, tapi salah sesuatu negara maju dengan banyak sumber daya.

”Jangan lupa, orang Arab Saudi membayangkan kami itu negara terbelakang karena yg ke sana cuma TKI. Jadi, dipikir seperti negeri TKI,” tutur Kalla.

”Jika rajanya tinggal di sini sembilan hari, apalagi rakyatnya, mungkin tinggal sebulan,” selorohnya. (COK/AYS/MHD/INA/IAN/HAR)

Versi cetak artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 5 Maret 2017, di halaman 1 dengan judul “Bali Dipilih karena Keindahan Lautnya”.

Sumber: http://travel.kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *