Akibat Pembiaran, Angka Kecelakaan Tumbuh Subur

By | March 9, 2017

 Jakarta, KompasOtomotif – Tingginya angka kecelakaan dahulu lintas rupanya belum menyadarkan para pengguna kendaraan, khususnya pengguna sepeda motor. Hal ini dapat dilihat dari realitas kehidupan sehari-hari, akan dari bentuk pelanggaran di jalan raya, sampai penggunaan perlengkapan berkendara yg kurang atau tak sesuai.

Bukan cuma itu, bila dijabarkan secara detail sebenarnya cukup banyak sikap dan prilaku yg telah menyalahi aturan. Parahnya lagi telah sampai menggangu kenyamanan dan keamanan pengguna jalan lain.

Menanggapi hal ini, Jusri Pulubuhu, Training Director sekaligus pelopor Jakarta Defensive Driving Center (JDDC), menjelaskan keadaan pelanggaran ketika ini telah sangat kronis.

“Intinya kerena ada efek pembiaran dulunya, yg lanjut menjadi budaya yg salah. Pelanggaran dahulu lintas banyak bentuknya, bukan sekadar menerobos lampu merah atau lawan arah, cara berkendara dan atribut yg tak sesuai juga telah termasuk,” kata Jusri ketika berbincang dengan KompasOtomotif, Rabu (8/3/2017).

twitter Pengendara motor pakai aksesori tambahan payung

Menurut Jusri, banyak contoh masalah mengenai tata cara berkendara sepeda motor yg salah dan mampu dengan gampang ditemui setiap hari. Mulai dari penggunaan aksesori yg sebenarnya berbahaya, cara berkendara yg tak ada etika, sampai kebiasaan buruk, seperti membawa anak kecil sembarangan dan berkendara sambil memegang ponsel.

Bila merujuk dari dari data World Health Organization (WHO), tingginya angka kematian akibat kecelakaan telah makin kritis. Pada 2015, sekitar 1,25 juta orang meninggal per tahun, dengan rincian sesuatu orang meninggal setiap 25 detik di segala dunia, hal ini diklaim makin meningkat setiap harinya.

twitter.com/tmcpoldametro Ilustrasi kecelakaan dulu lintas

“Angkanya itu lebih tinggi dari HIV atau pembunuhan. Apalagi melihat rata-rata yg meninggal, usianya masih sangat muda, itu belum ditambah dengan balita akibat kecerobohan ketika berkendara. Pembiaran yg terjadi telah seperti pembodohan,” kata Jusri.

Untuk menanggani hal ini, lanjut Jusri, harus dikerjakan oleh seluruh elemen. Paling penting dari lingkungan terdekat, seperti kepala keluarga, kakak-adik, baru berlanjut ke penegak hukum, pemerintah, sampai pemimpin tertinggi negara.

Sumber: http://otomotif.kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *